Saya Punya 2000 Mobil

Bisakah dipercaya seseorang di planet bumi ini memiliki mobil pribadi sebanyak 2000 biji? Awalnya saya pikir hanya salah ketik, tapi nampaknya kecil kemungkinan majalah Tempo salah dengan angka semudah itu (bukan sejumlah digit atau desimal yang berbeda-beda) hanya 2 dan 0.

Tentu ini bukan tentang pemilik sebuah perusahaan otomotif, tapi hanya seorang mantan menteri keuangan yang nauzubillah…
Ini tentang “Pangeran Brunei Buron” warta singkat pada rubrik Momen majalah Tempo edisi 16-22 Juni 2008.

Alkisah (kalau masih beranggapan ini hanya dongeng) sang pangeran telah dituduh Kerajaan menggelapkan uang sekitar US$14,8 Miliar setara Rp 140 Triliun (imajinasi saya tak sanggup membayangkan banyaknya) dan seperti kebanyakan penjahat tengik, tak tau di mana rimbanya. Polisi dan pengadil kerajaan pun kasak-kusuk memburu sang pangeran, kabar dari dengus hidung anjing pelacak kerajaan, “bad guy” ini ada di Monako, sebuah negeri dongeng lainnya di belahan bumi ini.

Dari sanalah cerita 2000 (dua ribu) buah mobil itu berpangkal.Selain mobil dan jumlah uang di luar imajinasi itu, Pangeran Jefri Bolkiah juga menimbun harta berupa sejumlah rumah mewah, 9 biji pesawat pribadi, 100 lukisan, dan 5 buah kapal pesiar.

Saya hanya tak percaya dengan angka 2000 tersebut.Benak saya yang tolol dan tanpa dosa ini bertanya: untuk apa sebanyak itu? mungkin 20,atau 200 masih bisa saya terima.
Se-bajingan-nya “pangeran” dan pengemplang uang negara di Indonesia, belum pernah saya membaca ada yang memiliki harta sejumlah Pangeran Brunei Darussalam itu. Entahlah jika kasus mobil Timor “Yang Maha Agung Hutomo Mandala Putra” dikatakan sebagai mobil pribadi juga, tapi sepertinya ini berbeda.

Benar kata pepatah rumput tetangga memang lebih hijau, apalagi ini hanya terjadi pada sebuah kerajaan. Dongeng? bisa jadi, tapi Indonesia tentulah bukan negeri dongeng, dia benar-benar ada, real, tahah yang terlentang di garis khatulistiwa dengan sejumlah cerita yang juga hampir mirip dongeng.

Bisa jadi Kisah 2000 mobil atau bahkan mungkin lebih, terjadi juga. Terlebih tabiat sejumlah orang yang tergila-gila dengan rekor (baca:MURI) dan separuh penduduknya memuja popularitas menjadi berhala.

Amin…

Posted in hidup | Leave a comment

I’m The Big Fat Panda

“Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called the present”.

Begitulah pesan dari Maha Guru Oogway kepada penerusnya Guru Besar Shifu di bawah Pohon Persik Kebijaksanaan pada sebuah malam bertabur kilau jutaan merjan.

Sebuah film animasi tak melulu hanya berisi adegan gambar-gambar olahan komputer yang konyol dan tak masuk di akal, tapi bisa pula disisipi pesan-pesan moral (klise atau malah mengejutkan) agar film tersebut tidak jatuh dalam kekeringan. Apalagi sasaran penonton animasi adalah anak-anak yang pastinya baru saja mengecap manis pahit kehidupan.

Syahdan, di sebuah lembah tak bernama – yang dikesankan berada di sebuah wilayah negeri China – hiduplah seekor Panda yang sangat menggilai seni bela diri kung fu dan bermimpi suatu hari menjadi pendekar dengan menguasai jurus-jurus kung fu yang super ajaib itu. Tapi apa daya, Panda yang bernama Po ini terlalu kelebihan berat badan, alias sangat gemuk dan tentunya menggemaskan. Menggerakkan badan bangun tidur pun susahnya minta ampun, lebih relevan bila ia misalnya bercita-cita menjadi penghibur pada sebuah sirkus dibandingan pendekar kung fu yang mampu terbang sambil menendang atau memukul musuh. Tapi karena kejanggalan itulah cerita terjadi dan adegan-adegan konyol dalam animasi menjadi mungkin.

Po adalah anak seekor bebek tua yang bernama Mr Ping (bebek beranak panda? imajinasi dalam kartun bisa apa pun, tak perlu didebat), penduduk lembah yang berprofesi sebagai penjual mie rebus. Mr Ping sangat sayang terhadap Po dan sangat mengharapkan Po menjadi ahli warisnya untuk meneruskan usaha warung mie nya itu, “kuah telah mengalir dalam darah kita” begitulah pesan yang selalu disampaikan Mr Ping pada Po.
Po yang baik hati ini sangat gundah akan pilihan itu, pada satu sisi ia ingin menjadi pendekar kung fu tapi pada sisi lain ia tak mau mengecewakan ayahnya.

Cerita kemudian terus mengalir yang diawali dengan peristiwa “kecelakaan” dan berlanjut dengan adegan-adegan kung fu ala Jet Lie atau pun Jackie Chan yang kali ini diperagakan oleh kumpulan binatang-binatang, Lima Pendekar: Tigress (macan betina),Monkey (monyet),Viper(ular),Crane (bangau), dan Mantis (belalang) serta karakter pendukung lainnya Master Shifu (sejenis tupai langka) Master Oogway (kura-kura) dan tentunya sang antagonis Tai Lung (macan tutul jantan).

Tokoh-tokoh ini hidup dan terjalin dalam sebuah jalan cerita, dialog dan aksi yang sangat asyik untuk menjadi hiburan di akhir pekan baik sendiri,bersama pacar, teman, ataupun anak-anak anda.
Meski jalan cerita sangat standar dan mudah ditebak, tapi itu semua tak begitulah penting di sini. Kita hanya perlu menikmati Po dan kawan-kawan yang lucu dan menggemaskan dengan tingkah polah serta celetuk-celetuk ala komedi Hollywod-nya yang segar.

Para pengisi suara dalam Kung fu Panda pun bukan sembarang aktor, Siapa yang tak kenal aktor komedi Jack Black,aktor watak Dustin Hoffman, Si maha seksi Angelina Jolie, Lucy Liu dan tentu master kung fu “sebenarnya” Jackie Chan. Dengan barisan aktor-aktor yang tak perlu diragukan lagi itu, membuat Kung fu Panda memang layak ditonton berjuta orang di seluruh jagat.Harga yang pantas bagi kerja maksimal duet sutradara John Stevenson and Mark Osborne.

Meski begitu, memang tak ada yang pernah sempurna.
Roger Ebert (kritikus paling ditakuti seantero Hollywood) menulis di Chicago Sun-Times,”Dalam banyak hal Kung fu Panda bukanlah film animasi terhebat yang pernah ada, karisma Po tak membuat saya bahagia yang berlebihan, tapi film ini ditampilkan dalam gambar yang sangat elegan dan aksi-aksi memikat yang menguras energi, cukup baiklah untuk penonton yang lebih tua, bagi anak-anak tentu semua itu sangat memukau dan pastinya mereka akan sangat-sangat bahagia.”

Tuan Ebert hanya memberi bintang tiga untuk Kung fu Panda.Tapi penonton seperti saya bukanlah penonton film dengan pikiran setajam pisau bedah seperti Rogert Ebert, saya dan bejuta penonton lainnya hanya menikmati hal-hal yang ringan dan sederhana, tertawa ngakak selama satu jam lebih demi membunuh rutinitas di akhir pekan hingga membuatnya berada dalam barisan Box Office beberapa minggu ini.

Apalagi? ayo nonton…

Posted in film | 1 Comment

3000 comment??

Hampir jantungan ketika login ke sini. Ada 3000 lebih komentar di blog ini. Begitu populerkah? Ya, populer bagi penyebar komentar sampah yang disebut SPAM. Beginilah kalau sebuah blog tak diurus dengan benar, seperti hidup yang berantakan, amburadul.

Mr Spam, Youre welcome here..:-)

Posted in blog | 41 Comments

Jackie Chan versus Jet Li (akhirnya…)

 

 

forbiddenkingdomposter.jpg
AKHIRNYA! Jackie Chan versus Jet Li terjadi juga! dua orang ini kita tahu adalah dua pendekar tak terkalahkan penghuni puncak film-film “kung fu”. Chan, pendekar berkarakter ” lucu” dan Li dengan karakter yang lebih “serius”. Siapa yang tak kenal mereka berdua? Setelah the legend Bruce Lee, saya bisa menyimpulkan mereka berdualah yang berkuasa di “rimba per-kungfuan” di kancah “martial arts”.

Siapa yang paling di atas di antara keduanya, tak ada yang tahu. Kita juga tak tahu siapa yang paling layak disebut “maha guru” di antara dua orang ini.

Mungkin sebagian kita dan kawan-kawan pernah berdebat siapa di antara keduanya paling layak diberi nomer satu dalam “ber kungfu”, debat yang konyol tentunya, hahaha…

Tapi siap-siap lah untuk tahu ketika ” The Forbidden Kingdom” dirilis sekitar April nanti. Inilah saatnya mereka berdua untuk pertama kalinya dalam satu layar, satu adegan dan memamerkan jurus-jurus kungfu yang menakjubkan itu.

Kungfu memang bisa menjadi begitu dahsyat, indah dan ajaib ketika ia digarap sineas-sineas Hongkong, Taiwan atau juga (sedikit) yang digarap orang-orang Hollywood.

Saya sebenarnya tak terlalu fanatik dengan film genre bak bik buk ini, hanya ada beberapa saja yang memang layak untuk dipuji, diberi aplaus, sebab memang begitu luar biasa, sebuah kerja seni yang memukau.

Seperti beberapa film yang dirilis beberapa tahun belakangan yang pernah saya tonton:

- Crouching Tiger, Hidden Dragon (Ang Lee) yang menyajikan kungfu ajaib seindah tarian balet itu (makanya sangat layak diganjar oscar)

- Hero (Zhang Yimou) yang penuh dengan adegan bak buk dan denting pedang namun alih-alih merasakan “kesadisan” , kita seolah-seolah disajikan sebuah puisi yang maha indah lewat gambar – gambar yang sempurna!

- House of Flying Daggers (Zhang Yimou) yang dramatis, cantik, tragis dan membuat menangis

- Kungfu Hustle (Stephen Chow) yang memadukan kebodohohan, ketololan, kelucuan dan kegilaan dengan nilai-nilai filosofis kungfu yang agung itu.

- Kill Bill (1/2) (Quentin Tarantino) bukan murni kungfu tapi masih ada unsur-unsur kungfu nya dengan segala inovasi cerdas nya.

Di luar daftar di atas pastilah hampir semua film-film Jackie Chan dan Jet Li sendiri.

Lalu seperti apa kedahsyatan dan keindahan ” The Forbidden Kingdom” itu? silahkan nonton sendiri bulan depan, aksi Jackie Chan versus Jet Li! selamat menonton.

Posted in film | 123 Comments

Ayat-ayat GAGAL

Ukuran bagus dan tidak bagus memang bisa relatif, tergantung siapa yang menilai. Dian Sastro bisa dibilang sangat menawan oleh hampir semua orang tapi sah-sah saja bila ada yang mengatakan dia biasa-biasa saja atau sangat tidak menarik -meski orang ini perlu dirujuk ke dokter syaraf-. Kencing boleh sama nggak lurus, tapi pikiran belum tentu boleh sama.

Lalu saya ingin berkomentar sedikit (juga) tentang film “ayat-ayat cinta”.

Untuk film yang “heboh” ini, saya ternyata dengan terpaksa masuk dalam kelompok yang menyatakan ini adalah film yang:
tak tau maunya apa

Dari berbagai sudut pandang penonton awam saya, film ini memang gagal. Saya yang awam saja tentang seluk beluk film bisa dengan lancang mengatakan film ini jelek, bagaimana dengan orang-orang yang fasih film sendiri?
mungkin saya spoiler, mungkin juga “pengamat bola yang jago ngoceh bola tapi belum tentu bisa menyepak bola”.

Maaf Mas Hanung, izinkan saya menulis ini meski mungkin menyakitkan. Saya tahu membuat film bukan seperti membuat mie rebus.
Tapi saya berdoa untuk film-film anda selanjutnya lebih memikat dan memang layak dipuji.

Dan ini beberapa kegagalan yang saya tangkap dari mata awam saya:

90 persen film ini mengisahkan tokoh yang ber setting “Mesir” ( yang ternyata tak terlihat Mesir nya karena katanya terpaksa pengambilan gambar harus di India) tapi sepertinya dengan teknologi masa kini rasanya tak terlalu sulit untuk membuat seolah-olah seluruh adegan itu memang berlokasi di Mesir (apakah budget untuk itu terlalu mahal? entahlah).
Di mana piramida Giza yang agung itu, meski hanya sekilas? Al-Azhar yang megah itu? Kota Kairo yang garang itu? hanya ada secuil “Nil” yang lebih mirip sungai di sebuah negara tropis.

Awalnya saya membayangkan Mesir itu adalah negara yang panas dengan segala aksesoris kesemrawutannya. Tapi tak saya temukan di film itu. Hanya ada lorong-lorong pasar sempit dengan “ruko” yang tak jelas.

Tentang tokoh-tokohnya? alamak! Fahri ini terlalu “cute”, gemulai, cengeng dan rajin mengucap “astaghfirullah” meski hanya beberapa detik menatap wanita “bertopeng”. Selain itu lelaki ini terlalu doyan “berceramah” meski harganya harus dihajar bogem mentah. so perfect guy! apakah karakter lelaki seperti ini memang mampu membuat empat gadis klepek-kleplek sekaligus?

Maaf, Fedi Nuril tak bisa dibantah lagi memang gagal memerankan lelaki yang beruntung dan sempurna ini, ekspresinya datar-datar saja, kalau tak mau menyebutnya sangat membosankan. Mungkin khas film-film kita pada umumnya, menutup kelemahan ini dengan adegan sedih yang “wajib” berurai air mata dan saat marah “wajib” teriak-teriak hampir mirip kesurupan.

Lalu perempuan “arab” nya? jujur, mereka barisan perempuan menggiurkan lelaki (normal) semua. Tapi saya bingung, ini orang arab atau melayu campur barat? oke lah, hidung, bibir, mata Rianti Cartwright (Aisha) dan Carissa Putri (Maria) masih kelihatan arab -arabnya, tapi Zaskia Adya Mecca (Noura)? gadis Mesir apa gadis Garut sih? apa nggak nemu yang lain saat casting? juga tokoh paman Aisha yang Jerman campur Turki, kok jadinya Surya Saputra?

Selain itu? wah, banyak sekali daftar “kelucuan” film ini. Saya sampai tak enak hati sendiri untuk mengurainya satu-satu meski hanya sekilas saja.

Dialog yang itu-itu juga, terlebih-lebih bahasa yang dipakai (indonesia, arab, inggris campur aduk tanpa melihat siapa yang sedang berbicara), adegan persidangan yang bertele-tele dan aneh, pesan moral yang terlalu gamblang dan klise, alur yang datar, suspen yang dipaksakan dsb dsb.

Maaf mas Hanung, membuat film memang bukan seperti meyeduh mie rebus. tapi film ini saya rasakan seperti itu…terlalu gampang, instant, sekilas menggiurkan, tapi kalau terlalu banyak dan sering jadi kembung, bisa-bisa kena magh kronis.

Posted in film | 264 Comments

siapakah francespolly?

Halah! siapa juga yang pingin tahu siapa saya, hehe. Tapi mungkin saja ada blogger yang penasaran (geer). Lagian saya bukan blogger yang baik, dan gaul – kategori yang baik dan gaul tentulah yang rajin posting dan blogwalking kemana-mana alias rajin bersosialisasi. Postingan ini juga setelah membaca di blognya paman tyo tentang bloggers yang mau pakai nama asli atau nama palsu.

Nickname ini memang kerap saya pakai, di YM dan beberapa account email, saya memakai nama francespolly ini, bahkan baru-baru ini di tempat saya bekerja, saya juga memakai inisial inicourtney-love-frances-bean.jpg untuk karya saya.

Lalu siapakah dia? jujur, memang awalnya untuk “menyembunyikan diri”, mungkin sebagian orang-orang juga pernah melakukannya, misalnya si “gadismanisandcute, lelaki tampan, perjaka tangguh, kambing congek atau apalah namanya, padahal aslinya mungkin si yanto, parto, udin, wati, nina atau nama-nama manusia wajar lainnya.

Dan saya juga memakai nama ini “francespolly”. Saya yakin orang-orang ngga akan percaya kalau saya memperkenalkan diri dengan nama ini. “namanya siapa sih mas?”, kata si penanya, “francespolly non,” jawab saya. Ngga deh, saya yakin si non penanya pasti akan mengerutkan dahi. Ini bukan nama yang lumrah untuk ras melayu berkulit coklat (eufemisme untuk hitam, hihihi)

Lalu siapa “francespolly?’

Sebagian orang mungkin bisa menerka ini diambil dari nama apa, terutama 90′s rock generation, hehe. Tapi bagi yang belum paham, okelah.

Frances : Frances Bean (anak gadis alm Kurt Cobain)

Polly: salah satu lagu Nirvana (album Nevermind)

Saya penggemar band ini, mereka muncul dan berkeliaran di panggung musik dunia ketika saya pada masa “haus lagu rock”. Setiap orang mungkin juga pernah melewati masa ini, dengan masa yang berbeda, dengan “leader generation” yang berbeda pula.

Jadi saya kawinkan aja dua nama ini, tetap terdengar keren (gedubraak!!) dan bisa saya pertanggungjawabkan alasannya, begitulah…:-)

P.S: frances, semoga kau berbakat seperti bapakmu, dan buang jauh-jauh bakat liar emak mu.

foto: courtney love dan frances bean

Posted in blog, musik | 2,525 Comments

go!go blog

Ini blog ke sekian kalinya, lupa udah berapa blog yang dibikin (baca:dicoba). Kemarin dah bikin di sini, tapi ada masalah di comment (gak bisa posting comment), napa ya? udah diutak-atik, tetap aja gak bisa. Mudah-mudahan yang ini bisa. Ya udah bikin aja lagi blog baru, mumpung belum dipungut iuran, hehehe…:p

go! go blog!

Posted in blog | 5 Comments

Selamat Datang di dagdigdug

Selamat Datang di dagdigdug.com. Ini posting pertamamu , Ekspresikan perasaanmu. Ngebloglah sekarang juga !

Posted in Uncategorized | 816 Comments